Resensi



Tantangan Perempuan
 


Judul                       : Garis Perempuan
Penulis                    : Sanie B. Kuncoro
Jumlah Halaman     : 375
Publish                    : Januari 2010
Penerbit                   : Bentang Pustaka
ISBN13                   : 9789791227728

Sanie B. Kuncoro adalah seorang penulis dari kota Surakarta, Jawa tengah. Karya- karnyanya sering laku dan best seller seperti Ma Yan yang mengisahkan cerita dari kisah nyata penggugah inspirasi. Dengan menceritakan tokoh- tokoh wanita dalam karyanya, Sanie B. Koncoro berhasil membawa pembaca dalam pengalaman- pengalaman yang tidak biasa pembaca ketahui dengan bahasanya yang mengalir enak untuk diikuti.
Pada novel Sanie B. Kuncoro berjudul “Garis Perempuan” kita akan dibawa kisah perempuan Ranting, Gendhing, Tawangsri dan Zhang Mey yang menjalani kehidupan penuh pilihan dalam sebuah takdir kehidupan yang sudah digambarkan. Muncullah pertanyaan kepada mereka sanggupkah ingkar terhadap kepatuhan yang sering dilakukan dan berani menentukan pilihan dari garis perempuan yang ditentukan seperti partitur perkawinan.
Novel ini menceritakan Ranting, Gendhing, Tawangsri dan Zhang Mey, teman sepermainan sejak kecil. Kebun menjadi miniatur dalam kehidupan dongeng yang sering menjadi tempat bermain. Meskipun mereka berasal tingkat ekonomi maupun ras berbeda tidak menjadi masalah bagi persabatan mereka sampai dengan mereka tumbuh dewasa dan menjalani kehidupan masing- masing.
Ranting dan Gendhing harus menyerah pada keinginan untuk bersekolah karena tuntutan ekonomi. Ekonomi keluarga yang cukup untuk makan membuat mereka memilih bekerja untuk keluarganya. Ranting harus berjuang menjajakan karak- karaknya ke pasar menggantikan ibunya yang sudah tua renta dan terkena tumor yang membuat perutnya semakin membuncit. Sedangkan Gendhing, bekerja di salon Cik Ming sebagai asistennya. Namun, dengan mereka hidup sederhana, tetapi mereka bahagia menjalani hidup yang sudah mereka pilih.
Nasib lebih baik dialami oleh Tawangsri dan Zhang Mey. Ibu Tawangsri yang bekerja menjual pakaian batik di pasar dan ibu Zhang Mey yang menjadi tengkulak becak penuh perhitungan memberikan kehidupan yang cukup untuk menyekolahkan mereka hingga dibangku perkuliahan. Orangtua yang tidak berpendidikan tinggi akhirnya tidak terlalu memaksa mereka menentukan jurusan yang terpenting bisa menghasilkan duit.
Kehidupan tidak selalu tenang dan datar menghampiri mereka. Permasalahan yang muncul seiring dengan darah tanda keperawanan datang menjadikan mereka memandang partitur perkawinan secara berbeda pula. Mereka menghadapi pernikahan harus memilih bagaimana menjalaninya. Keberanian untuk mengingkari kepatuhan terhadap partitur perkawinan penuh dengan konsekuensi.
Ranting dipertemukan dengan seorang saudagar kaya di desanya, Basudewo. Basudewo menunjukkan ketertarikannya dan berniat untuk meminangnya menjadi istri ke empat. Pemikiran Basudewo sama dengan pemikiran lelaki lain, sah- sah saja jika lelaki memiliki istri lebih dari satu asal memenuhi kaidah hukum dan agama yang berlaku. (Hal. 62)
Sebuah harga pada diri Ranting menjadi suatu imbalan yang pas untuk pernikahannya. Dia menjadikan dirinya pelacur yang dalam pernikahannya. Bukan pelacur yang terlalu tinggi karena kesadaran dirinya yang setidaknya dapat mempertahankan hidup dari karak- karaknya, tetapi juga cukup tinggi untuk harga dari perawan, lebih dari itu karena dia tidak terjamah oleh lelaki manapun. Dua puluh lima juta adalah harga yang pas untuk dibayar Basudewo untuk dirinya atas uang yang dibayar lelaki itu untuk biaya operasi Simboknya. (Hal. 99)
“Kurasa itu wajar. Tidak murahan, tidak pula mahal. Jadi, dia berhak melakukan ‘itu’ kepadaku sebanyak seratus kali. Akan kuhitung setiap kali dia datang dan melakukannya. Akan kucatat tanggal datangannya, sebagai bukti dan data pendukung pada akhir perhitungan nanti”. (Hal 99)
Sanie juga menceritakan sisi lain dari kisah Gendhing dan Indragiri, seorang pria paruh baya dan berstatus istri orang. Luapan emosi yang ada di antara mereka menumbuhkan benih- benih cinta di antara mereka dan menjalani hubungan yang di masyarakat dianggap sebagai selingkuhan. Namun pada akhirnya, cinta mereka hanya kesadaran dan terhubungkan karena angka- angka yang diberikannya untuk membantu Gendhing membayar utang ibunya kepada rentenir. Lagi- lagi label harga harus diberikan Gendhing yang seharusnya tidak ditawarkan beraapun itu.(Hal 205)
Kisah Tawangsri menyuguhkan kisah berbeda. Tawangsri berhubungan dengan Jenggala, duda beranak satu. Ketertarikan mereka berawal dari ketidaksengajaan bertemu di sebuah taman bermain di dekat perpustakaan daerah,hal ini membuat mereka sering bertemu dan membuat hubungan mereka semakin jauh dan penuh makna. Namun, Tawangsri ragu akan hubungannya yang semakin dekat disebabkan traumanya terhadap ayahnya yang tidak peduli, hingga menganggurkan ibunya dan dia. Kehilangan sosok ayah mengakibatkan dia melindungi diri terhadap lelaki, Jenggala yang trauma akan cintanya yang telah pergi membawa setiap harapan yang dia punya. Dia ragu dengan namanya pernikahan, hingga dia mau menyerahkan keperawanannya kecuali pernikahan yang di masyarakat dianggap suatu pemberontakan.
“Perawanan bagi laki- laki memang bagai mitos, memunculkan perasaan berhak untuk mendapatkannya, semacam rasa heroik menjadi orang pertama. Pada beberapa orang bahkan memunculkan obsesi yang memicu penasaran dan hasrat. Bagiku, itu semua sudah selesai. Telah kumiliki seorang perawan pada masa lalu dan itu tidak menjamin kebahagiaan karena perempuan yang sama membawa serta segala harapan yang kupunya dengan kepergiannya.” (Hal 275)
Sisi lain kisah Zhang Mey membawakan cerita tentang penolakan orangtua terhadap kekasihnya yang seorang iniren, Tenggar. Orangtuanya yang ingin meneruskan garis keturunan meskipun masyarakat sudah bercampur hingga tidak lagi menjadi “berdarah murni”, membuat menolak keras hubungannya. Zhang Mey selalu patuh kepada setiap perkataan orang tuanya mencoba ingin ingkar, namun akankah ia kemudian tidak menyesal atas pilihannya mempertahankan Tenggar atau melupakannya.
“Satu hal harus kau tahu. Tidak ada jaminan bahwa pilihanmu adalah yang terbaik. Siapa pun yang kau pilih masing- masing memiliki ketidakpastian dan berpotensi untuk berubah. Karena cinta, kau akan  merasa Tenggar adalah pilihan yang terbaik, tapi tak ada yang tahu apa yang akan terjadi pada detik selanjutnya. Tentang perasaan apalagi. Siapa bisa menjamin perasaannya sendiri bergeming ketika bertemu dengan orang lain yang tak terduga? Kalau ada banyak janji terucap sebagai jaminan hal- hal semacam itu, itu sama sekali tak serupa dengan ketentuan yang berlaku dalam Bank Garansi yang memiliki moto utama: ‘My word is my bond”. Bisa jadi suatu hari nanti, oleh sesuatu atau hal lain, jaminan itu berubah menjadi garansi bodong.” (Hal. 341)
Pada kisah empat gadis ini kita akan bertanya juga pada diri kita juga bagaimana kita dapat memposisikan ketika menghadapi permasalahan yang sama. Akankah kita akan menempatkan pada diri patuh pada tradisi, ketidakberdayaan untuk melawankaan bukan untuk tradisi darah perawan, melainkan dinding yang lain, yakni membawa seseorang tidak memenuhi kriteria standardisasi yang tergaris turun- temurun. (Hal.
Pada akhirnya kita mendapatkan gambaran kehidupan yang akan selalu berubah dan tidak ada tahu akhirnya. “Kita akan senantiasa berhadapan dengan pilihan. Meskipun kita berhak menentukan setiap pilihan, tetaplah tersadari bahwa tidak ada pilihan terbaik itu akan mengantar kita pada sebuah pengembaraan yang menakjubkan,”
Sanie berhasil mengemas cerita ini dengan apik. Pembacapun dapat dengan mudah memahami cerita yang disajikan. Kisah Ranting, Gendhing, Tawangsri dan Zhang Mey berhasil membawa kita pada pengembaraan hidup yang tidak ketahui akhirnya namun menakjubkan. Novel ini sayang untuk dilewatkan di perpustakaan pembaca.

Oleh Ika Murnia Wati

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Publikasi Media Kompas Kampus Edisi 13 Mei 2016