Resensi: Berpikir ke Depan, Menerjang Tradisi
Berpikir ke Depan,
Menerjang Tradisi
Oleh : Ika Murnia Wati
Tahun terbit : 2007; Cet. 2
Jumlah halaman : 252 hml
Jumlah halaman : 252 hml
Tebal buku : 19 cm
ISBN : 979-3828-41-2
Harga buku : Rp. 33.915,00
Dunia tanpa sekolah membayangkannya
seperti hidup dalam kebodohan. Dimana hidup tanpa mengenyam pendidikan.
Pendidikan seperti bukan hal yang berarti. Dan pastinya kita ketahui, pasti
akan terjadi banyak konflik dan kriminal. Masyarakat melanggar norma, moral dan
hukum. Masyarakat menjadi manusia yang tidak berilmu, tidak menyandang gelar
dan pangkat. Namun, apakah sebenarnya dunia tanpa sekolah seperti itu?
Dunia tanpa sekolah mungkin berbeda
dengan bayangan yang di atas. Dunia tanpa sekolah mungkin lebih baik dari apa
yang telah kita bayangkan. Karena sebenarnya ada perbedaan pandangan antar
individu terhadap sekolah. Dengan bersekolah yang tinggi, seseorang akan
dianggap pintar, derajatnya lebih tinggi daripada yang tidak bersekolah,
mendapat gelar dan juga pangkat. Namun apakah kita bisa menganggap orang
bersekolah atau berpendidikan tinggi seperti itu sekarang?
| Add caption |
| Add caption |
Dalam buku Dunia Tanpa Sekolah yang
dikarang oleh M. Izza Ahsin inilah, kita akan menemukan pandangan berbeda
tentang sekolah. Melalui bukunya, Izza menuturkan perjalanannya sendiri untuk
keluar dari sekolah formal yang memenjarakan impian, fantasi dan tujuan
hidupnya.
Dalam buku ini, menceritakan Izza (penulis buku) seorang anak yang telah menemukan tujuan hidupnya menjadi penulis saat duduk di bangku SMP.
Bakatnya menulis sudah terlihat sejak dia SD. Dia sangat
suka membaca buku. Dia sudah dapat membuat novel fantasi pertamanya dengan 363
halaman. Bahkan calon doktor pun mengatakan tulisannya sudah setingkat tulisan
doktor. Pemberontakannya terhadap sekolah formal berawal dari buku-buku
pendidikan yang telah dibaca dan seluruh kenyataan hidup di sekitarnya. Ketika
niat sudah menguat menjadi penulis dan bertekad bulat keluar dari sekolah
formal yang sangat terkenal di Salatiga, Izza menyampaikan kepada orang tuanya.
Namun reaksi berbeda didapatnya dari apa yang telah dipikirkannya. Orang tua yang tahu tentang parahnya
pendidikan dengan kasar menolak untuk mendukungnya. Hubungan dengan orang tuannya semakin renggang. Setiap
kali berbicara tentang niatnya orang tuanya sangat marah, perdebatan dan pertentangan tak bisa dihindarkan dan itu berlangsung
beberapa bulan. Niat untuk keluar dari sekolah formal akhirnya belum bisa
terlaksana.
Izza adalah seorang anak sulung dari
pasangan berprofesi guru yang selalu mencari wawasan baru tentang pendidikan
melalui berbagai teori pendidikan mutakhir- konsep pendidikan yang membebaskan
dan mendalami Quantum Teaching, Revolusi Cara Belajar. Setelah bercita-cita
menjadi penulis, rasa bencinya terhadap sekolah yang memenjarakan pikiran,
membelenggu kreatifitas dan akan membuat manusia jadi pembebek sudah tak dapat
tertahankan. MembuatIzza menjadi anak
yang pendiam di kelasnya. Sering bolos (meminta ibunya untuk membuatkan surat
izin menyatakan bahwa dia sakit) dan
bahkan nilai rapornya turun drastis.
Izza juga melihat bahwa sekolah ialah lembaga yang
diragukan bisa membawa setiap siswanya
menuju kesuksesan hidup. Citra sekolah yang bagus namun tidak disertai
dengan kualitas guru yang bagus pula. Kebanyakan sekolah bagus yang paling
berperan adalah para murid dengan prestasi di atas rata-rata. Selain itu,
sekolah jarang mendapat kasus berat yang berasal dari para muridnya. Dan tentu
saja tertuju pada prestasi akademis muridnya.
“ Orang yang
hidup dalam keterpaksaan adalah orang yang paling menderita di dunia”.
Seperti
itulah kehidupan yang dialami Izza . Keterpaksaan harus tetap bersekolah. Namun
dia terus bersikeras dan tetap bertekad. Hingga orang tuanya akhirnya menyetujui keinginan
anaknya untuk keluar dari sekolah formal. Dan tahap awal revolusi dimulai dalam
hidupnya, berpikir maju dan menerjang tradisi yang sudah mbalung sumsum; sekolah
formal.
Dengan gaya bahasa yang tidak
terlalu rumit dan sederhana, sehingga maksud yang diingkinkan penulis dapat
tersampaikan ke pembaca. Kelebihan lain dari buku ini, pembaca akan berpikir
ulang tentang sekolah di negara ini. Dimana sekolah formal mungkin memenjarakan
kreatifitas. Tentang sikap bersikeras dan tekad yang kuat untuk melawan tradisi
yang salah. ”Belajar bukan selama 9 atau 12 tahun, namun belajaritu selamanya”.
Di sisi lain, keegoisan Izza
(penulis buku) terhadap lingkungan di sekitarnya
juga merupakan hal yang tidak patut dicontoh. Kegilaan dia terhadap menulis
dalam pandangan psikologi anak menjadikan dia kurang bersosialisasi terhadap
lingkungan. Namun diluar itu semua, menurut saya buku ini sangat bagus untuk
dibaca oleh berbagai kalangan. Dimana kita disajikan pandangan tentang
pendidikan dari sisi penulis juga dari orang-orang disekitarnya melalui dialog
antar tokohnya yang dikemas secara ringkas dan tidak bertele-tele. Buku ini
memberikan motivasi kepada untuk melawan tradisi yang ada apabila impian atau
tujuan kita tidak bertentangan dengan Allah SWT dan kita dijalan yang benar.
Komentar
Posting Komentar